Bukit Jaddih merupakan kawasan
tambang kapur di Bangkalan, Madura yang berubah menjadi kawasan wisata
yang unik. Panoramanya bisa bikin melupakan mantan.
Mendung
memayungi kota Surabaya pada Sabtu pagi (11/02/2017). Bangun pagi dengan
suasana seperti ini adalah hal yang cukup berat ditambah durasi tidur
semalam hanya beberapa jam saja. Meski begitu, janji kami semalam tidak
bisa dibatalkan. Bukan karena sudah sepakat, tetapi perjalanan hari ini
adalah salah satu hal yang saya impikan. Bersama lima teman sekelas di
kelas Berlin, Goethe Institute (Wisma Jerman), kami akan menyambangi
beberapa obyek wisata di Pulau Madura.
Perjalanan kami dimulai
menjelang pukul sembilan pagi dari Wisma Jerman di komplek Bambu Rucing
pusat kota Surabaya, mengendarai mobil milik seorang teman kelas, Yoga.
Suasana
jalanan di akhir pekan tak sepadat hari-hari biasanya. Tanpa hambatan
berarti, 30 menit berikutnya roda mobil kami sudah benar-benar melaju di
atas tanah Madura. Lolita satu-satunya perempuan dalam rombongan duduk
di samping Yoga yang duduk tenang dibalik kemudi, bertindak sebagai Trip
Manager kami kali ini.
Sebelum menjejali mata dengan dengan
keindahan Madura, kami sepakat untuk menjejali perut dengan sarapan yang
maknyus. Rumah makan Nasi Bebek Sinjay adalah spot pertama kami hari
itu. Rumah makan ini cukup luas,terdiri dari sepasang aula panjang, yang
di pagian unjungnya terdapat loket tempat memesan makanan. Suasana
rumah makan ini sangat ramai. Parkiran di belakang rumah makan, penuh
dengan kendaraan roda dua dan empat. Sepertinya, tempat ini menjadi
tempat makan favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Bangkalan.
Makanan
baru saja tersaji, hujan tiba ditemani tiupan angin yang cukup kencang.
Sesaat kami memandang ke luar. Tak ada ekspresi gelisah di antara kami.
Semua sepakat untuk menikmati trip hari ini apapun kondisinya. Pukul 11
siang kami meninggalkan rumah makan dan bergerak ke arah selatan menuju
destinasi yang sedang populer yakni Bukit Jaddih. Menempuh jarak 11 km
dengan waktu tempuh setengah jam. Hujan kembali mengguyur dengan
derasnya.
Kami sepertinya sedang beruntung! Baru saja mobil kami
memasuki parkiran di tepi danau biru, pusat Bukit Jaddih, hujan
berhenti. Kami tak sabar menapakan kaki di hamparan tanah putih, yang
tak lain adalah cadas kapur yang telah (tanpa sengaja) dibentuk menjadi
pola-pola tak beraturan seperti sebuah situs kuno.
Bukit kapur
Jeddih merupakan kawasan tambang kapur yang sudah dieksplorasi selama
bertahun-tahun. Hasil kerukan dan pahatan gunung kapur ini membentuk
pola tak beraturan dengan ukuran yang bervariasi.Â
Di
tengah-tengah bukit terdapat cerukan yang membentuk kolam yang akhirnya
orang menyebut itu sebagai Danau Biru. Konon, air yang ada dalam kolam
itu bukan berasal dari genangan air hujan yang terkumpul dari bebukitan
kapur di sekitarnya melainkan air yang memang bersumber dari bawah, dari
cadas kapur yang sudah dikeruk.
Aktifitas penambangan kapur
masih terus berlangsung hingga hari ini, yang membuat kawasan Bukit
Jaddih terus akan mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu.
Terlepas dari kontroversi eksplorasi tambang kampur yang terus
berlangsung, bukit Jaddih adalah fenomena yang unik. Orang menyebutnya
'luka alam yang indah'.
Tarif masuk di sini berkisar antara Rp
5.000-10.000, sudah termasuk parkir. Di beberapa sudut terdapat
gubug-gubug tempat pengunjung bisa menikmati makanan ringan dan minuman
yang dijual oleh masyarakat sekitar.
Puas menjelajahi lokasi di
sekitar kolam, kami lagi-lagi sesuai dengan arahan sang Trip Manager,
kami menuju puncak bukit. Perjalanan dengan kendaraan roda empat cukup
menantang. Jalan berkelok mengitari tebing kapur yang curam dengan
kedalaman 50 hingga 100 meter.
Dari puncak bukit, kami terkagum
menyaksikan bentang bukit kapur yang sudah dipahat dan dikeruk di
sana-sini. Tampak seperti kawasan kota kuno. Di beberapa sudut, dinding
kapur yang menghitam karena lumut memberi corak tegas pada setiap bagian
patahan. Di kawasan puncak, hamparan gundukan yang diselimuti
rerumputan hijau menjadi daya tarik sendiri. Dari kawasan puncak juga,
kita bisa dengan leluasa memandang bentang alam dan pemukiman di sekitar
Bangkalan.
Pukul 13.20, kami akhirnya meninggalkan puncak dan
langsung kembali ke kota Bangkalan. Sasaran berikutnya kembali pada
urusan perut, yakni makan siang. Kali ini, Yoga yang memegang kendali
dengan mengarahkan mobilnya menuju salah satu rumah makan yang menjual
nasi Buk khas Madura. Nasi Buk dibungkus untuk dimakan di lokasi
selanjutnya. Kawasan pesisir utara Madura, yakni Air terjun Toroan,
Ketapang, kabupaten Sampang.
Perjalanan menyusuri pesisir utara
Madura adalah sesi personal touching! Cerita mengalir begitu saja,
Gibran yang duduk di samping saya kerap melontarkan celotehan sekenannya
yang ditipali oleh yang lainnya. Di kursi paling belakang, Jimi dan
Flori menyumbang tawa dan celetukan rasa Flores yang kental. Perjalanan
selama dua jam menjadi tak terasa.
Air terjun Toroan tidak begitu
berkesan. Air yang keruh karena hujan yang terus mengguyur membuatnya
kehilangan pesona. Meski demikian, hal itu tak berpengaruh pada kesan
perjalan kali ini. Selepas melahap makan siang yang terlambat di sebuah
rumah makan dekat air terjun, kami kembali melalui jalan yang sama
menuju Bangkalan. Perjalanan pulang memberikan catatannya sendri.
Perbincangan yang menyentuh ruang personal seakan menegaskan kalau kami
telah menjadi sahabat dan saudara. Beginilah cara alam mengajarkan kami
berbagi! Eh, kok artikel travel story ini mirip - mirip curhat yah???
Ingat pesan di Bukit Jeddih, 'Lupakan Mantan, Bahagia Di Sini...!'

2 comments
Click here for commentshttp://bintangvip.blogspot.com/2017/05/capsa-online-mulai-ngetrend-di-dunia.html
ReplySAHABATQQ AGEN DOMINO QQ AGEN DOMINO 99 DAN POKER ONLINE AMAN DAN TERPERCAYA
Reply* Minimal DEPOSIT Rp 20.000,-
* Tersedia 8 game dalam 1 USER ID
*Bonus TO 0,3% Setiap 5 hari
*Bonus Refferal 15%
- Contact Us -
Pin BB : 2BCD6D81
LINE : SAHABATQQ
WA : +85581734021
ConversionConversion EmoticonEmoticon